Jumat, 19 Februari 2021

Tradisi Luma'Lu Tontemboan Minahasa

    Tradisi Luma'lu Tontemboan Minahasa


LUMA'LU, Tradisi Keluarga Berduka Suku Tontemboan Minahasa

Salah satu Tradisi budaya Minahasa di Tana Tontemboan saat ada duka-cita yaitu melakukan Luma'lu yaitu keluarga berduka (rombongan) mengunjungi peristiwa duka yg berdekatan atau juga mengunjungi tempat² yg biasanya dikunjungi yg meninggal, biasanya di Kebun (Anuma) dan Pasar.

Rangkaian budaya leluhur Minahasa Tontemboan pasca penguburan seseorang adalah sbb :

Ziarah kubur, biasa dilakukan pada jam 04.00 atau jam 05.00 subuh keesokan harinya setelah pemakaman. Diikuti oleh seluruh keluarga (biasanya keluarga yg perempuan pada saat pemakaman tidak ikut ke kuburan pada waktu pemakaman, maka momen ziarah di pagi hari itulah mereka berkesempatan untuk melihat kubur untuk yg pertama kali)

Mowey/Mengalei (berdoa, beribadah) Sekembalinya dari kubur, keluarga sudah ditunggu oleh tetangga, keluarga, jemaat dan masyarakat untuk beribadah pagi. Kegiatan ini bermakna filosofi bahwa keluarga yang berduka tidak ditinggalkan oleh masyarakat dan masyarakat berdatangan untuk mendampingi keluarga.

Melep mamondo,(Minum Bersama) setelah ibadah selesai, segenap keluarga dan masyarakat yang hadir akan minum bersama dilengkapi dgn penganan kue (dahulu kue yg dihidangkan itu dibawa oleh ibu2 yang datang di pagi itu, tapi sekarang kebiasaan membawa kue dari rumah masing2 sudah hilang, sekarang kue itu disediakan oleh keluarga) (Cucur, Brot Goreng, Nasi Jaha dll)

Minamo. Adalah ritual dimana keluarga besar akan menuju ke sumber air, seperti sungai atau pancuran untuk cuci muka (bukan mandi). Ritual ini bermakna bahwa keluarga yang berduka secara simbolik mencuci muka kesedihan, menghanyutkan semua kesedihan dan kepedihan. Kadang kala ritual ini dilengkapi dgn saling bercanda antara lain saling berpancar air, dan membasahi baju atau badan orang lain. Hal ini dilakukan sekedar membangun keceriaan dan berusaha bangkit dari kepedihan hati.

✓apabila ada peristiwa kematian yang terjadi di desa, setelah peristiwa duka di keluarga ini, maka mereka akan melakukan kunjungan ke rumah duka tsb. Biasanya hanya menengok dan langsung pulang (tidak duduk).

✓Dan selanjutnya ada beberapa kegiatan lain seperti ke kebun secara bersama, Keluarga dan Para tetangga melakukan ibadah penghiburan dan di kebun melakukan ibadah sambil makan dan minum ala piknik.

Dahulu, saat Luma'lu di kebun, keluarga² tertentu menyiapkan sajian (sesajen/Omper) yg dipercaya disuguhkan pd yg meninggal. Contohnya Menyiapkan Makanan, atau Meletakkan pakaian dari yang Meninggal.

Bahkan ada beberapa ritual spt Pica Kurek (membanting gerabah di tanah), melangkah di perapian, Meletakkan Pakaian Almarhum/Almarhuma dll, dan juga Beribadah (Mengalei/Sumombayang) Mendoakan Yang Meninggal.berbelanja ke pasar secara bersama,

Di pasar, keluarga berduka berkunjung sambil membeli jualan2 tertentu Tanpa Ditawar, untuk dimasak dirumah yang Berduka., sampai di hari Minggu pertama pasca pemakaman disebut Rumame/Kumawus/ Sumakey...

Inti dari Luma'lu adalah kebersamaan antara keluarga yang berduka dgn masyarakat adat.

Mereka saling menopang, menguatkan dan ini simbol dari KASIH KEPADA SESAMA.

Demikian beberapa catatan Tentang makna Budaya LUMA'LU.

Budaya ini adalah identitas budaya masyarakat Minahasa Tontemboan yang harus dihormati dan dilestarikan

Luma'lu adalah budaya, tradisi rakyat Minahasa Tontemboan yg baik, peninggalan leluhur yang harus kita lestarikan bersaman di Jaman Sekarang, Karena Suda Jarang di Lakukan.

Luma'lu mengingatkan bagi yang masih hidup untuk senantiasa rajin bermasyarakat, hidup berMapalus, rajin bekerja dan rajin beribadah. Karena saat meninggal seseorang akan dikenang pada apa yang diperbuatnya saat hidup. Kegiatan Luma'lu mengenang semua itu...

Awean Si Ma'ai wo Awean Si Mawareng.(Ada Yang Datang dan Ada yang Akan Pergi)

Upus Wo Lelo (Cinta dan Kerinduan)

Makapulu Sama (Terimakasih Banyak)

Pakatuan Wo Pakalowiren (Umur Panjang dan Sehat Selalu)