Rudolfo Rafael Tumewu
Kamis, 11 Desember 2025
𝐖𝐀𝐑𝐈𝐒𝐀𝐍 𝐂𝐄𝐍𝐆𝐊𝐄𝐇 𝐌𝐈𝐍𝐀𝐇𝐀𝐒𝐀: 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐁𝐈𝐁𝐈𝐓 𝐊𝐄 𝐑𝐔𝐌𝐀𝐇
Senin, 05 Mei 2025
Cerita Berdirinya Kawasaran Karapi Waya
Minggu, 05 Mei 2024
JATON (JAwa -TONdano)
Kamis, 04 Agustus 2022
Undangan Bahasa Tontemboan
Kamis, 05 Mei 2022
Sejarah Mayor Van Sonder Tololiu H W Dotuling
TUAMA MINAHASA...
PASUKAN TULUNGAN, SERDADU BAYARAN DARI MINAHASA YANG SUKSES MENGATASI DIPONEGORO..
Perang Diponegoro tahun 1825-1830 mnghasilkan bnyak perwira Minahasa prtama dlm dinas angkatan perang Hindia-Belanda yg brangkat dri pasukan khusus kmudian mnjadi Oost-Indische Leger lalu resmi bernama Koninklijk Nederlands-Indi
Keberanian & keperwiraan tuama Minahasa dlm pertempuran konon sngt menggentarkan musuh. Tdk heran, Belanda tlh memanfaatkan jasa pasukan Tulungan (bantu) dlm mengatasi peperangan besar yg terjadi sblum perang Diponegoro. Beberapa kelompok pasukan Tulungan Minahasa disebut tlah berandil dlm menetralisir perang di Maluku yg dikobarkan Kapitein Pattimura (Thomas Matulessy) tahun 1817.
Surat kabar Het Nieuws Van Den Dag voor Nederlandch-Ind
Komandan tentara Hindia-Belanda sekaligus Letnan Gubernur Jenderal itu memuji Mayor Tololiu Dotulong yang dianggapnya sangat membantu dalam mengakhiri perang yang menelan korban jiwa dan biaya besar itu. Tololiu Dotulong pintar berargumen, berbakat dengan keberanian tidak terkira dan kebijakan yang mampu mengatur pengikutnya. Pasukan Tulungan Minahasa dipujinya lagi karena ‘hebat’ dalam segala hal, mampu menahan iklim dan selalu berhasil masuk lalu lolos dari bahaya besar.
Bahkan telah membuktikan bahwa Pangeran Diponegoro hanya ingin menyerah kepada pasukan Tulungan Minahasa. Penyerahan tokoh yang kini menjadi pahlawan nasional Indonesia itu, menurut harian ini, berlangsung pada tanggal 27 Maret 1830. Diponegoro mengucapkan berulangkali, bahkan setelah ia dipenjarakan, kekagumannya terhadap keberanian dari Mayor Tololiu Dotulong.
Untuk jasa-jasanya dalam Perang Diponegoro, Tololiu Dotulong memperoleh kenaikan pangkat militer Mayor menjadi Groot Majoor pasukan infantri. Selain itu ia memperoleh penghargaan tanda jasa medali emas serta sebilah pedang bersalut emas yang baru diterimanya bulan April 1833.Surat kabar terbitan Batavia tadi memuji Tololiu Dotulong sebagai pahlawan dan teman setia. Ia dilahirkan di Kema (kini kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara) tanggal 12 Januari 1795. Ia sudah dikenal di masa mudanya sebagai sangat pemberani. Pada usia duapuluh tahun, Tololiu diangkat menjadi Kepala Distrik Kedua (Hukum Kedua) Sonder dan delapan tahun kemudian di tahun 1823 dipromosi menjadi Kepala Distrik (Hukum Besar). Kinerja, semangat besar dan kemampuan Tololiu Dotulong dipujikan sekali Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Cappelen (1816-1826) selama kunjungannya ke Minahasa tahun 1824. Tidak heran di tahun 1827 Tololiu Dotulong dianugerahi gelar kehormatan Mayoor.
Di tahun 1827 Tololiu Dotulong menikah dengan putri Kepala Distrik Kakas (Ontoy Elisabeth Aleto Kalalo). Masa itu Hindia-Belanda dirongrong Perang Jawa dibawah Pangeran Diponegoro, dan Residen Manado (pejabat, 10 Februari 1826, lalu definitif 13 Agustus 1827-1831) Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat memiliki kebiasaan mendiskusikan banyak isu penting dngn Tololiu Dotulong, terutama kesulitan yg diakibatkan oleh peperangan besar tersebut. Kepala Distrik Sonder segera menawarkan layanannya.
Ia mengusulkan sang Residen membentuk pasukan Minahasa untuk bantu memerangi Diponegoro. Ternyata pemerintah Hindia-Belanda menerima usulannya, sehingga Tololiu Dotulong memulai usahanya sendiri mengumpulkan sekitar 1.600 anggota pasukan Minahasa. Ia pun diangkat menjadi komandannya.
Setelah sukses menangkap Pangeran Diponegoro, di tahun 1830 Tololiu Dotulong pulang kembali ke Minahasa dan membangun Sonder menjadi lebih baik lagi dengan banyak ilmu pengetahuan yang dilihatnya di Jawa. Di tahun 1861 ia mengundurkan diri dan diberikan pensiun.
Salah seorang keturunan Dotulong menjabat kepala distrik—atau Hukum Besar—bergelar mayor. Namanya Albertus Bernardus Waworuntu.
Sementara itu, perwira bawahannya, Kapten Benjamin Thomas Sigar alias Tawajlin Sigar, juga akhirnya jadi kepala distrik Langowan, daerah asalnya. Makamnya tidak jauh dari Gereja Sentrum (Patung Schwarz), Langowan. Ada pula keturunannya yang pernah jadi Hukum Besar atau kepala distrik di Langowan dengan gelar Mayor. Namanya Phillip Sigar, kakek dari Prabowo Subianto.Namun semangat mudanya masih menyala-nyala laksana seorang pemuda. Di usia 81 tahun 1876 ia mendengar berlangsungnya Perang Aceh. Berpikir membantu, dengan segera Tololiu Dotulong menawarkan diri untuk kembali mengumpulkan pasukan balabantuan Minahasa. Dan, karena tidak bisa berperang lagi sebab usia tua, maka dimintanya anaknya bernama Albertsino (Albertus) Dotulong untuk ditunjuk sebagai komandan pasukan.
Tapi, karena fakta dalam militer Hindia-Belanda saat itu telah ada pasukan Manado, rencananya ditolak. Tentu saja ia merasa kecewa. Groot Majoor Tololiu Dotulong meninggal pada usia yang sangat tua, 94 tahun tanggal 18 November 1888.
Pemerintah Hindia-Belanda baru kembali ingat jasa-jasa Groot Majoor Tololiu Dotulong mulai pertengahan tahun 1920-an. Tiga Gubernur Jenderal dalam perjalanan dinasnya ke Keresidenan Manado tercatat pernah berziarah& sebagai penghargaan meletakkan krans (karangan bunga) di pusara ‘teman setia dan sekutu’nya selama Perang Diponegoro.
Pertama adalah Jhr.Mr.Andries Cornelis Dirk de Graeff di tahun 1927, kedua Jhr.Mr.Bonifasi
disadur dari berbagai sumber..
CREDIT: PUSAT PERSENJATAAN DAN SEJARAH MILITER - PPDSM
Rabu, 29 September 2021
Kawasaran Minahasa
KAWASARAN (KABASARAN)
Kawasaran merupakan tarian perang dari suku Minahasa. Tarian ini melambangkan kegagahan, keberanian dan keperkasaaan waraney Minahasa dalam melawan musuh. Kawasaran berasal dari kata "Wasal"/"Wasar" yg diambil dari filosofi seekor ayam jantan yang dipotong jenggernya agar ayam menjadi lebih ganas dan kuat dalam bertarung.
Tarian Kawasaran ini yang dulunya disebut Waraney yang kesehariannya hanyalah sebagai petani, Namun bila Ada yg datang Mengacau Atau Mengganggu Ketentraman, merekalah yang akan menjaga dan melindungi Desa atau tempat tinggal mereka..
Namun Seiring perkembangan jaman, Sekarang Kawasaran sudah di pakai untuk Mengantar Jenazah Para Walian, Tonaas, atau parah waraney itu sendiri. Juga dipakai untuk menjemput Tamu Para Pembesar Seperti Presiden, Mentri, Pejebat atau Gubernur, Walikota, Bupati.
Atau Juga Sekarang sudah di pakai dalam pesta pernikahan.
Kawasaran sendiri merupakan suatu tradisi turun temurun yang dijaga tingkat kesakralannya meskipun di era moderenisasi ini sudah tidak semua penari kawasaran bisa dikatakan asli penari atau masih mengikuti tradisinya.
Pakaian kawasaran dahulunya terbuat dari bahan kulit kayu "Karai Mo'mo" atau "Kayu Mo'mo". Kayu ini merupakan bahan baku utama yang dipakai dalam pembuatan pakaian kulit kayu masyarakat Minahasa tempo dulu.
Seiring pekembangan zaman bahan pakaian sering berubah. Ada yang bahan pakaian yang terbuat dari bahan alami seperti kulit kayu sampai anyaman serabut kelapa. Saat ini pakaian kawasaran sudah terbuat dari bahan kain dengan varian jenis baik yang biasa maupun tenun.
Pakaian kawasaran dominan berwarna merah merupakan simbol keberanian para leluhur dan keturunannya hingga saat ini. Adapun aksesoris pelengkap pakaian adalah:
1). Tengkorak kera atau tengkorak plastik/viber. Namun pada masa lampau tengkorak yang dipakai adalah tengkorak asli manusia (lawan perang). 2). Topi atau Porong Dengan Hiasan Kepala burung Taon dan Bulu² Ayam juga Burung." 3). Wentel" (sompoy) "Embetan" (jimat) serta beberapa pusaka yang dieratkan dalam badan. 4). Senjata (Santi) yang digunakan adalah "sondang" (pedang) dan "wengkou" (tombak) serta "keliid"/ "kelung" (perisai).
Tarian Kawasaran biasanya ditarikan oleh 8/9 orang dalam satu grup dengan komposisi 1 Orang Pemimpin ("Sarian/Teteruzan/Tumuturu/
Tumutuzu"), 8 orang waraney dan 1 orang penabuh tambor. Grup ini merupakan yang paling terkecil. Grup Tari Kawasaran sangat relatif jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dalam kegiatan.
Tarian Kawasaran biasanya ditampilkan dalam acara resmi kenegaraan untuk menyambut tamu penting, acara pernikahan (mawulei weru) atau acara kedukaan (mawuwuringan).
Sabtu, 04 September 2021
TUMEWU MENAJANG PURUN
TUMEWU MENAJANG PURUN
(Tumewu Menajang)
1).Engel Tumewu
2).Jan Tumewu
3).Wellem Tumewu
4).Dan Tumewu
5).Oleng Tumewu
6).Buang Tumewu
(Tumewu Purun)
7).Nico Bugi Tumewu
8).Frederika Unggu Tumewu
9).Paulina Tumewu
10).Ferdi Alo Tumewu
11).Lintje Tasiam Tumewu
12).Emes Tumewu
13).Itje Cice Tumewu
1.)Engelbert Tumewu Kapoyos Kawengian
Anak:
1. Yunius Tumewu
-Lodie
-Mesen
-Onca
-Fon
-Bung
2. Fence Tumewu
-Jems
-Elen
-Linda
-Marlen Tumewu
3.Edy Tumewu
-Fendy
-Fanny
-Elvi
-
-Steva
-Nova
4.Jhoni Tumewu
-Nova
-Verra
-Naning
-Meidy
-Joice
5.Evi Tumewu
-Yoppy
-Lenny
-Vertje
-Rolly
6.Alo Tumewu
-Esye
-Aldy
7.Yos Tumewu
-Michael
-Lala
-Dodoi
8.Nona Tumewu
-Jein
-Linda
-Otta
Tumewu Kawengian
1.Frets Tumewu-Maria Senduk
Ank²:
- Metsi Tumewu
- Fanly Tumewu
- Fernando Tumewu
- Andre Tumewu
2.Aris Tumewu- Mei Sorongan
Ank²
- Deddy Tumewu
- Randu Tumewu
- Elma Tumewu
- Dealova Tumewu
3.Yantje Tumewu-Meike Loway
Ank²
- Algi Tumewu
- Deisy Tumewu
- Yanti Tumewu
4.Dantje Lumintang-Meike Tumewu
Ank²
- Frangky Lumintang
- Alfian Lumintang
- Heidy Lumintang
- Imelda Lumintang
5.Nyong Tumewu-Fanny Kumayas
Ank²
- Suryani Tumewu
- Marsel Tumewu
- Jun Tumewu
- julivia Tumewu
6.Dolfy Kapoh-Meidy Tumewu
Ank²
- Erna watung
- Armando Kapoh
7.Benhart Tumewu
( Blm kweng )
8.Maxi Tumewu-Cheny Somba
Ank²
- Jhosua Tumewu
- Tita Tumewu
- Engelbert Tumewu
2.)Jan Tumewu-Hetty Waney
Anak²:
1.Reintje Tumewu, anak:
-Serviana Tumewu
-Rahel Tumewu.
2.Alfrits Tumewu, anak:
-Nova Tumewu
-Recky Tumewu.
3.Yutje Yuhana Tumewu, anak:
-Anto Sorongan
-Jemmy Sorongan
-Yuri Sorongan.
4.Ferry Ruus Tumewu, anak:
-Merry Tumewu
-RudolfoTumewu
5.Maksi Alo Menajang Tumewu.


















