Sabtu, 08 Mei 2021

Merengkom, Marongkem Salah Satu Tradisi Tua Minahasa


 Merengkom / Marongkem (Makan Bersama / Makan Pake Tangan dengan Menggenggam)

Tradisi Merongkem Adalah Tradisi Tua Minahasa yang Mungkin di Jaman sekarang sudah jarang di temukan cara Makan Deperti ini Baik Dalam acara Suka Maupun Duka duhukala cara ini yg selalu digunakan.

Merongkem adalah Carah makan yang paling mudah Hanya Menyediakan Daun Pisang/Daun Woka/ Daun Jati dan Daun² yg bisa di jadikan Pengalas untuk Makanan.. 

Karena dulu juga salah satu cara masak TouMinahasa lebih kusus Tontemboan selalu masak menggunakan Bulu (Bambu) entah dari sayur( Sayur Paku, Sayur Gedi, Sayu Pangi, Sayur Saut dll) kalau dari Daging (Daging Babi, dll pokonya hewan yang bisa dimakan dagingnya), Nasi Bambu/Nasi Jaha(Jahe).

Daun² yang telah di sediakan seperti yang disebutkan di atas di taruh di atas Meja atau wadah kemudian Semua yang telah di masak Di Taruh di Atas Daun kemudian di makan Bersama disitulah kemudian muncullah nama Cara Makan Merongkem..




Jumat, 07 Mei 2021

Lagu Amang Kasuruan Tontemboan Minahasa

 


Sejarah Lagu Amang Kasuruan.

Pandangan John Mapaliey tentang “TUHAN” dan proses lahirnya lagu AMANG KASURUAN.

Pengertian dari Rengan-rengan adalah Karengan I kayobaan tumou ( Adam yang bersetubuh dan melahirkan keturunan).

Kasuruan adalah tokoh Adam yang dianggap sebagai tertinggi oleh pandangan orang Minahasa tua saat baru mulai mengenal injil sebagai wujud Allah.

Adam adalah Kasuruan tertinggi.

Ketika mereka mencari penguasa tertinggi yang disebut-sebut dalam ajaran Alkitab, mereka hanya sanggup memahami wujud Allah melalui Adam.

Amang Kasuruan ( Bapa Adam yg sama juga dengan Bapa Tuhan).

Dengan arti luas, Kasuruan adalah : Tuhan Pencipta, yang Ilahi, bersemayam di Surga.

Kata Opô Wananatas memiliki pengertian “yang tertua dan yang tertinggi”

John memahami Tuhan sebagai Kasuruan dari pada memahaminya sebagai Opo Wananantas. Dari pemahaman itu pada tahun 1956 lahirlah lagu berjudul : “Amang Kasuruan”,

LAGU AMANG KASURUAN

Cipt. John Mapaliey

Tahun 1956

Syair bahasa Tountembouan dalam dialek yang digunakan di Rumoong Atas dan pengertiannya dalam adaptasi bahasa Indonesia.

Amang Kasuruan, Bapa Pencipta

Kasuruan Wangkô Pencipta yang besar

Wuka’an nai lalan Bukakanlah jalan

Wayaan nami Tempat kami berjalan

Pa kulu-kulu nai Jamah-jamahlah

Pa loindong-loindongan Lindungi-lindungilah

Pa sule-sulenai Topang-topanglah

wayaan nami Perjalanan kami

Kêli-kêliên nai, Perbanyak-banyaklah

Wutu – wutulên nai Benar-benarkanlah

êm waya-waya Ya semuanya

Kasalé’én Kesukaan

ka’aruyen Penghiburan

ang katouwan nami dalam hidup kami

Tawa-tawangên nai, Tolong - tolonglah,

Aking-akingên nai Papah-papahlah

êm waya-waya Ya semuanya

Ka salệen Kesukaan

Ka aruyên Kesukaan

ang katoan nami dalam hidup kami

Pakatuan pakalowiren umur panjang lanjut usia